TENTANG PENERIMAAN
Sembilan tahun yang lalu, saya adalah seorang ibu yang terus
'bersiteru' dengan diri sendiri. Pernikahan (bagi saya saat itu) ternyata
adalah gerbang yang membuat saya seakan kehilangan jati diri. Tentu tanpa
menafikan kebahagiaan-kebahagiaan yang dihadirkan pernikahan dalam hidup saya;
ada sisi lain dalam diri saya saat itu, yang sedang terperangkap dan belum
menemukan jalan keluar. Seorang gadis yang dibesarkan dengan idealisme dan
segudang cita-cita terhadap masa depan, tiba-tiba harus dibawa untuk menyelesaikan
cita-cita ‘orang lain’.
Saya ditakdirkan menjadi istri seorang lelaki
shalih insyaAllah yang memberi saya seorang putra dan seorang putri tanpa
harus melahirkan; seorang ibu luar biasa harus dipanggil Allah ketika kedua
permata hatinya masih begitu belia. Lalu tugas beliau rahimahallah, kemudian
Allah embankan pada saya. Di saat kepala saya tidak menyimpan pernikahan
sebagai satu di antara keinginan yang harus disegerakan.
Pada sisi ini, saya seringkali tertegun
menyaksikan begitu banyak pemudi yang dihinggapi kegalauan terus menerus sebab
jodoh yang tak kunjung hadir di saat ia merasa telah begitu ingin bahkan
teramat siap. Ada banyak hal dalam hidup yang di dekatkan
Allah pada kita, saat kita tidak menginginkannya. Dan sebaliknya, Ia menahan
banyak hal yang justru telah lama diidamkan. Allah mengetahui sedang manusia
tiada mengetahui, demikian yang senantiasa terulang di hati sebagai penguat
langkah.
Saya 17 tahun ketika teman-teman saya berkutat
dengan jurnal-jurnal ilmiah dan seabrek tugas perkuliahan, sementara saya sudah
harus sibuk memutar otak menentukan pola parenting yang tepat untuk kedua anak
saya yang beranjak remaja; sebagai usaha kecil saya mewujudkan tuntutan banyak
pihak. Mereka bilang, keduanya adalah amanah yang harus dijaga. Ibunda keduanya dahulu
rahimahallah bercita-cita menjadikan keduanya Hafidz dan Hafidzah.
Saya yang perfeksionis memahami pernyataan itu justru sebagai tekanan yang sangat besar. Walau bertahun-tahun berkawan dengan aktifitas menghafal Al Quran, tidak serta merta kemampuan mendidik anak menjadi penghafal itu kemudian saya miliki. Saya harus belajar. Saya harus banyak sabar.
Hari-hari saya kemudian disibukkan menghadapi
drastisnya naik turun perubahan emosi ala anak baru gede dengan jiwa ibu yang
juga belum lepas sempurna dari masa remajanya. Bisa dibayangkan betapa ‘kemampuan akting’ saya
di hadapan keduanya dipertaruhkan. Saya harus terus berpura-pura hebat dan berlagak
menjadi ibu berusia puluhan tahun yang telah sangat dewasa. Meski ketika malam
tiba, saya akan menangis sendirian di sudut kamar. Dengan atau tanpa suara.
Naluriah keperempuanan saya sudah cukup tahu, bahwa sosok bernama ibu itu,
harus lebih kuat dibanding anak-anaknya. Ia tak boleh terlihat lemah.
Kemana dirimu yang dulu?
Kemana kau yang begitu semangat belajar?
Kemana kau yang dulu berkilau?
Hey!
Seharusnya dirimulah yang sedang dipikirkan
ayah ibumu, bukan malah kau yang memikirkan orang lain!
Keegoisan dalam jiwa muda saya, berteriak
sekencang-kencangnya. Saya paham ini salah. Tapi kekuatan saya hanya sampai di
sana.
Lalu tatkala pagi kembali hadir, urusan domestik
rumah tangga dan tentu ketiga anak saya, sukses membuat saya lupa ratapan dan tangisan
semalam. Begitulah seterusnya. Semacam bom waktu yang tersembunyi. Yang tak
seorangpun tahu bahwa ia akan meledak sebentar lagi.
Setahun menikah saya melahirkan bayi laki-laki.
Tidak usah saya beberkan ribetnya mengurus bayi. Terlebih dalam kondisi batin
yang 'belum berdamai' dengan takdirnya. Jika orang mengenal sindrom baby
blues, (berkat kasih sayang Allah) saya tidak sampai ke tahap itu. Namun
saya tidak memungkiri bahwa bibitnya tertanam di dasar emosi.
Lalu bagaimana dengan kuliah saya?
Iya, saya tetap melanjutkan kuliah, setahun
setelah pernikahan. Meski idealismenya surut, hampir total. Saya gagap
menghadapi kenyataan bahwa saya tidak lagi bisa fokus pada kuliah saya saja.
Saya bukan yang dulu lagi. Bahwa saya bisa belajar sepuasnya. Saya bisa tidur
kapan saja saya mengantuk, atau saya bisa bepergian sesukanya selayaknya remaja
perempuan yang lain. Sekarang saya adalah seorang ibu yang harus siap sedia
setiap saat untuk anak dan suaminya. Harus siap menyelesaikan segala persoalan
rumah tangga serta dinamika masing-masing personnya. Saya harus siap ketika
anak-anak berulah, sementara bahan kuliah baru saja dibuka pada halaman
pertama.
Saya marah!
Saya merasa tidak siap!
Saya terlalu muda untuk memikirkan hal-hal
semacam ini!
Saya merasa benar-benar sedang bersandiwara
memerankan tokoh bernama ibu itu.
Lalu tiba-tiba saya merasa sangat tua lebih dari
seharusnya. Dan itu bagi saya memalukan.
Ya! Saat kau harus bingung menjawab pertanyaan
banyak orang. Tentang siapa sebenarnya kedua anak yang selalu kau gandeng?
Berapa sebenarnya jumlah anakmu? Berapa usiamu? Saat bahkan kau telah
menjelaskan namun mereka malah kelihatan geli menyebutmu "Ummi" bagi
anak-anak yang siang malam kau urus. Entah meragukan atau melecehkan.
Suatu hari saya dan Syifa (putriku yang kedua)
menghadiri sebuah acara. Seseorang yang tak kami kenal mendekat dan bertanya
pada saya.
“Anaknya sudah berapa?”
“Lima!” Jawabku yakin.
“Bukan, yang anakmu saja?”
Syifa yang di sampingku menatapku dengan sinar
mata yang berubah. Saya paham ia merasa dibedakan. Beberapa orang mungkin akan bergumam sinis.
Menganggapnya receh saja. Lebay. Manja.
"Ah, siapa suruh nikah muda.”
“Gitu doang dikeluhin.”
“Gak bersyukur!” Dan lain lain..
Oh.. tapi, jangan salah. Perasaan semacam ini
bisa saja menjangkiti siapa saja. Mungkin juga kalian. Siapa saja yang masih
belajar tentang penerimaan akan takdir dan ketentuan Allah. Siapa saja yang
terus-terusan mematok hidupnya harus seperti keinginannya atau sebagaimana
kebanyakan manusia. Siapa saja yang tanpa sadar hendak mendikte Allah.
Pada awalnya saya juga mengira perasaan ini
muncul karena saya masih sangat muda. Lalu saya bertemu banyak ibu yang
notabene jauh lebih tua usianya dari saya, ternyata juga mengalami persoalan
yang serupa: Mereka 'kehilangan' dirinya. Hingga saya berkesimpulan, kita tidak seharusnya terkurung oleh persoalan usia.
Berkali-kali saya hendak mundur. "Sudahlah,...takdirmu mungkin bukan menjadi
sarjana. Di rumahlah saja kau urusi anak-anakmu itu, yang sekarang jumlahnya
bertambah lagi." Terdengar seperti cemoohan atas diri sendiri. Namun demikianlah adanya diri saya di usia 18 tahun.
Saya bersyukur dikaruniai orang tua juga suami
yang sangat paham mimpi-mimpi saya. Meski tentu posisi dan kondisi membatasi
masing-masing kami. Tentu tidak sama ketika seorang ayah mendukung putrinya
sekolah tinggi-tinggi, ketika putrinya belum menikah dan ketika telah menikah.
Terlebih sudah punya anak. Meski ayah adalah sosok pertama dan utama yang tidak pernah surut tekadnya
menyemangati saya.
Demikian pula suami saya. Saya tahu ia sejatinya ingin
istrinya sekolah tinggi-tinggi. Seperti janji yang diucapkannya sebelum menikah. Ia tidak ingin menjadi penghalang. Ia bahkan telah berusaha sekuat kemampuannya selama ini. Tahun 2014 ia menemani saya melanjutkan studi di Negeri Dua Nil, Sudan, meski akhirnya kami harus
pulang disebabkan berbagai dilema.
Ketika saya mulai mengamati
apa yang saya lakoni, saya sadar ada yang salah. Suami saya seharusnya pulang ke tanah air.
Dunianya bukan di tempat ini dan pada kondisi seperti ini. Dia harus mencari
nafkah untuk kami. Beban finansial di negeri yang tengah mengalami krisis akibat embargo seperti Sudan terlalu berat untuk ditanggungnya. Kami seakan berada dalam komposisi yang keliru. Seharusnya suamilah yang memimpin arah langkah keluarga ini. Betapapun ia pernah berjanji mewujudkan cita-cita saya, namun sejak pernikahan ini terjadi maka cita-cita saya adalah "cita-cita kami". Ada nilai kebersamaan dan keseimbangan yang harus kami jaga. Maka kepulangan suami saya, adalah berarti kepulangan kami semua. Di atas keputusan meneruskan pendidikan, kami telah berkomitmen untuk tidak pernah mengmbil langkah LDR dengan alasan apapun.
Tujuh tahun berlalu. Saya masih sering bertanya tentang hikmah di balik kepulangan saya itu.Mengapa saya tidak ditakdirkan menyelesaikan perkuliahan di Sudan. Mengapa harus menjeda pendidikan yang telah lama diidamkan. Mengapa harus meninggalkan mimpi yang sejengkal lagi teraih. Dan berbagai tanya yang menyesakkan sekaligus tanda atas fakirnya keridaan dalam jiwa saya.
Allah Maha lembut atas kelemahan hati hambaNya ini; Ia hadirkan hikmah dalam sesederhana-sederhananya pandangan mata. Ketika Syifa memeluk saya selepas menyetorkan hafalan
terakhirnya. Ia menangis sembari mengucap sepatah kata dalam isakan.
“Syukran, Ummi...”
Kalimat singkat yang kemudian memecah kekerasan
di hati saya. Entah bagaimana, Allah menjawab segala kegelisahan. Saya seperti
disadarkan sesadar-sadarnya.
“Syukran sudah pulang dan lebih memilih kami,
Ummi.” Saya sangat mengerti tentang apa yang hendak diucapkannya.
Bukankah kita hidup di dunia untuk selamat di
akhirat? Saya menginsafi kembali tentang tujuan hidup manusia di muka bumi. Mengumpulkan sebanyak mungkin perbekalan menuju tempat pulang paling hakiki. Dan anak-anak yang shalih-shalihah, merekalah yang akan
menjadi amal tak terputus bagi kedua orang tuanya. Semua akan pergi, terkecuali do’a - do’a mereka.
Saya tertunduk. Menyeka begitu banyak air mata
yang jatuh. Juga membiarkan semua kegelisahan pergi. Sebab ini, saya harus
tetap di sini. Sebab ini, Allah menarik saya pulang. Untuk membersamai anak-anak luar biasa yang kelak akan menjadi satu-satunya pintu yang terbuka saat semuanya sudah tertutup.
“Ummi akan tetap di sini, sayang. Atas seizin Allah." Saya berjanji dengan hati yang terasa begitu lapang.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha mengetahui tentang setiap episode yang Engkau gariskan. Engkau Maha penyayang dan tak
mungkin mendzhalimi.
Kami saja yang begitu terbata mengeja luasnya setiap lembaran hikmah Mu.
Seorang Ummi yang terus belajar,
Nafisah Ikhwan
Komentar
Posting Komentar